Cerita

Wawancara dengan Koordinator iSIKHNAS Provinsi Riau

Saat iSIKHNAS diperkenalkan di Provinsi Riau pada 2014, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau hanya menggunakan sistem informasi ini untuk pelaporan penyakit dan manajemen kasus. Seiring dengan bertambahnya fitur pelaporan di iSIKHNAS, Provinsi Riau menjadi salah satu provinsi yang paling aktif menggunakan sistem ini, dan menggunakan hampir semua fitur pelaporan iSIKHNAS. Fitur diagnosa definitif yang memungkinkan pemetaan situasi penyakit secara akurat, misalnya, paling banyak dikirimkan dari Provinsi Riau. Kinerja mengesankan ini tentu tak lepas dari peran koordinator iSIKHNAS di provinsi tersebut, drh. Ali Saukhan, yang telah menjadi koordinator provinsi sejak awal iSIKHNAS digunakan di Provinsi Riau.

(Baca selengkapnya.)

Laporan Pemantauan iSIKHNAS 2018

Sejak implementasinya di Tanah Air pada 2013, sistem informasi kesehatan hewan Indonesia iSIKHNAS telah berkembang pesat. Dalam 5 tahun, iSIKHNAS telah mendaftarkan lebih dari 20 ribu petugas dan 5 juta peternak—melonjak tinggi dari angka pengguna awalnya yang hanya 320 petugas. Sepanjang 2018 lalu, sistem menerima 19,5 juta pesan dan laporan dari ke-34 provinsi di Indonesia, atau satu pesan baru setiap 1,6 detik. Artinya, terhitung dari detik saat Anda mulai membaca artikel ini sampai Anda tiba pada kalimat ini, sudah ada 12 pesan yang masuk ke iSIKHNAS.

Perkembangan yang sedemikian pesat tentu membawa konsekuensi. Untuk mengetahui jumlah dan jenis data yang diterima sistem, memahami seberapa jauh sistem ini telah digunakan, serta mengidentifikasi berbagai tantangan dan peluang, data-data pun diekstraksi dari iSIKHNAS untuk ditelaah lebih lanjut. Hasil pengamatan terhadap data iSIKHNAS sepanjang 2018 tersebut dirangkum dalam laporan pemantauan kinerja iSIKHNAS 2018, yang dipublikasikan dan dapat dibaca di sini.

(Baca selengkapnya.)