Wawancara dengan drh. Ali Saukhan, Koordinator iSIKHNAS Provinsi Riau

Saat iSIKHNAS diperkenalkan di Provinsi Riau pada 2014, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau hanya menggunakan sistem informasi ini untuk pelaporan penyakit dan manajemen kasus. Seiring dengan bertambahnya fitur pelaporan di iSIKHNAS, Provinsi Riau menjadi salah satu provinsi yang paling aktif menggunakan sistem ini, dan menggunakan hampir semua fitur pelaporan iSIKHNAS. Fitur diagnosa definitif yang memungkinkan pemetaan situasi penyakit secara akurat, misalnya, paling banyak dikirimkan dari Provinsi Riau. Kinerja mengesankan ini tentu tak lepas dari peran koordinator iSIKHNAS di provinsi tersebut, drh. Ali Saukhan, yang telah menjadi koordinator provinsi sejak awal iSIKHNAS digunakan di Provinsi Riau. Koordinator provinsi seperti beliau bertanggung jawab memastikan para penentu kebijakan di provinsinya memahami dan mendukung pemanfaatan sistem informasi ini. Sebelum mulai bertugas sebagai koordinator, Dokter Ali Saukhan menerima serangkaian pelatihan dalam hal pengetahuan teknis dan manajerial untuk mengelola sistem.

Wawancara dilakukan pada akhir 2018 melalui telepon, untuk mengupas lebih dalam mengenai bagaimana Provinsi Riau telah memanfaatkan iSIKHNAS untuk mendukung kebijakan kesehatan hewannya.

Manfaat apa saja yang telah diperoleh dengan penggunaan sistem ini?

Yang paling terasa adalah tersedianya data yang dapat diolah setiap saat dibutuhkan. Petugas lapangan pun tidak perlu mengirimkan laporan tertulis lagi setiap bulan. Mereka hanya perlu mengirimkan SMS setelah memberikan pelayanan, dan ini mengurangi beban petugas lapangan dalam penyusunan laporan bulanan.

Data apa saja yang telah dimanfaatkan?

Dengan iSIKHNAS, kami dapat memantau kegiatan staf di lapangan. Laporan kejadian penyakit pun dapat diketahui dengan cepat terutama jika ada kejadian penyakit yang berbahaya atau berpotensi wabah. Dengan demikian, langkah pengendalian dan pencegahan dapat segera dilakukan sebelum penyakit menyebar.

Selain itu, laporan pengobatan dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan dan pengadaan obat-obatan. Kemampuan petugas dalam penanganan penyakit pun dapat dievaluasi dari laporan iSIKHNAS. Sebagai contoh, berdasarkan data iSIKHNAS kami melihat bahwa masih ada staf yang memberikan diagnosis yang kurang tepat sehingga pengobatan kurang efektif. Oleh sebab itu, pada anggaran 2019 kami mempersiapkan dana untuk kegiatan bimbingan teknis investigasi wabah. Persetujuan atasan untuk kegiatan ini mudah diperoleh karena usulan tersebut ditunjang oleh data dari iSIKHNAS.

Berdasarkan data iSIKHNAS, Provinsi Riau mengirimkan laporan DX terbanyak. Apa yang Anda lakukan untuk mendorong petugas melaporkan hasil diagnosa secara teratur?

Di Provinsi Riau kami mewajibkan setiap laporan penyakit disertai dengan diagnosa definitif, terutama jika penyakit tersebut dicurigai sebagai penyakit prioritas. Biaya operasional juga dibayarkan dengan mempertimbangan kelengkapan laporan, termasuk laporan DX.

Bagaimana dukungan penentu kebijakan terhadap iSIKHNAS di daerah Anda?

Setelah diberi pemahaman mengenai bagaimana sistem ini bekerja dan memberi manfaat kepada dinas, atasan kami sangat mendukung penggunaan iSIKHNAS. Dukungan tersebut diberikan baik dalam bentuk kebijakan maupun penganggaran. Kami mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pelaporan.

Kebijakan apa yang telah dilakukan untuk mendukung pelaporan secara berkelanjutan?

Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran operasional untuk pelaporan kepada staf lapangan. Biaya operasional tersebut dibayarkan berdasarkan kinerja staf, yang dimonitor melalui iSIKHNAS, untuk memastikan bahwa staf lapangan mengirimkan laporan penyakit yang dilengkapi dengan laporan manajemen kasus dan pengobatan. Pembayaran biaya operasional dihitung untuk setiap laporan kasus yang lengkap.

Selain dukungan dalam bentuk kebijakan dan biaya operasional, apa lagi yang mendorong petugas untuk terus menggunakan sistem ini?

Kewajiban penulisan laporan telah digantikan oleh iSIKHNAS, dan hilangnya keharusan membuat laporan tertulis menjadi insentif bagi petugas lapangan karena kerja mereka menjadi lebih ringan. Apalagi, biaya pulsa mereka juga digantikan oleh pemerintah. Di samping itu, kita tetap perlu memberikan pelatihan, bimbingan, dan motivasi secara terus-menerus.

Saya sangat terbantu karena pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan veteriner atau IVL. Ilmu yang saya peroleh melalui pelatihan tersebut saya terapkan untuk memotivasi dan mendorong petugas untuk menggunakan iSIKHNAS. Dalam mengelola iSIKHNAS, kita tidak hanya berurusan dengan hal teknis, tapi yang lebih utama adalah memastikan orang-orang melihat manfaat dari sistem ini dan terus menggunakannya secara sukarela. Saya harap pelatihan IVL juga dapat diperluas dan diberikan kepada koordinator iSIKHNAS di tingkat kabupaten karena merekalah ujung tombak pelayanan dan penggunaan iSIKHNAS

Apakah ada rencana pemerintah daerah untuk menganggarkan pelatihan kepemimpinan tersebut?

Kami akan usahakan, tapi untuk saat ini kami baru bisa mengusulkan pelatihan investigasi wabah. Mudah-mudahan tahun berikutnya kami bisa menganggarkan pelatihan IVL ini karena sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran iSIKHNAS

 

Keluarga besar iSIKHNAS berduka cita atas wafatnya drh. Ali Saukhan pada Senin, 10 Juni 2019, di RS Ibnu Sina, Pekanbaru, Riau. Kiprah dan karya beliau untuk kesehatan hewan Indonesia tak akan terlupakan. Terima kasih banyak dan selamat jalan, Dokter Ali Saukhan.